EVALUASI PENDIDIKAN

MAKALAH
EVALUASI PENDIDIKAN
Tugas Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu: Dr. MA Fattah Santoso M.Ag

Disusun Oleh:
Muchlis: G 000 080 067

FAKULTAS AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
UNIVERSITAS MUHAMADIYAH SURAKARTA
2010

A. TOLOK UKUR EVALUASI
a) Tolok Ukur Dari Hakekat Manusia
1. Perspekstif Unsur Pembentuk
Dilihat dari unsur pembentuknya manusia itu teridiri dari:
a. Tanah
b. Ruh Allah
Kesimpulan ini diambil dari Firman Allah dalam QS Shad: 71-72
                   
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. Maka apabila Telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”.

Selanjutnya mengenai penyebutan manusia secara umum digunakan dua kategori, yaitu:
1. Basyar (disebut 37 kali)
2. Insan (termasuk dalam kategori insan-disebut 65 kali, kata-kata lain yang seakar dan semakna, yaitu nas (ناس) – 240 kali, ins (إنس) – 18 kali, unas (أناس) bentuk jamak dari insan, 5 kali, insiyy (إنسيّ) – 1 kali, dan anasiyy (أناسيّ ) – bentuk jamak dari insiyy, 1 kali.
Kategori basyar lebih terkait dengan unsur tanah dan insan lebih terkait dengan unsur ruh Allah.
• Manusia sebagai basyar: kecenderungan Al-Quran:
1. kebutuhan makan dan minum, QS Al-Mukminun/23: 33
            
“(Orang) Ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum”.
2. Ketampanan wajah, QS Yusuf/12:31
      •    •     
“Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha Sempurna Allah, Ini bukanlah manusia. Sesungguhnya Ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.”
3. Persentuhan kulit (kebutuhan biologis), QS Maryam /19: 20
           
“Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan Aku bukan (pula) seorang pezina!”

4. Unsur materi (tanah) pada penciptaan manusia, QS Shad/38: 71
         
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”.
5. Rasul adalah basyar plus wahyu, QS Al-Kahfi/18: 110
          
“Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”.
Kesimpulannya: Kata basyar cenderung digunakan untuk menjelaskan dimensi lahiriah manusia.
• Manusia sebagai insan: kecenderungan Al-Quran
1. Kemampuan berbicara, berkomunikasi, dan berbahasa, QS Al-Rahman/55: 1-4
          
“(Tuhan) yang Maha pemurah. Yang Telah mengajarkan Al Quran. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara”.
2. kemampuan belajar dan memiliki pengetahuan, QS Al-‘Alaq/95: 1-5
                        
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.
3. Kemampuan berteknologi, QS Al-Rahman/55: 33
                 
“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”.
4. Kemampuan bermoral, QS Luqman/31: 14
     •            
“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu”.
5. Kemampuan spiritual, QS Al-Dzariyat/51: 56
      
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
Kesimpulannya: Kata insan cenderung digunakan untuk menjelaskan dimensi psikis dan spiritual manusia.
Jadi, dua kata basyar dan insan dapat digunakan untuk menunjukkan substansi manusia. Substansi insan lebih tinggi posisinya dari substansi basyar. QS Al-Hujurat/ 49: 13
 ••           •      •    
“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”.
Hakekat manusia perspektif unsur pembentuk adalah jiwa.
2. Perspektif tujuan Penciptaan
Dengan daya-daya yang dimilikinya sebagai puncak penciptaan alam, ternyata manusia, sebagaimana diinformasikan Al-Quran, yang diciptakan dengan tujuan untuk menjadi khalifah (wakil) Tuhan di muka bumi, QS Al-Baqarah/2 : 30
                     •         
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Bila tujuan penciptaan untuk beribadah kepada Tuhan dialamatkan juga kepada makhluk selain manusia, seperti jin dalam QS Al-Dzariyat/51: 56
      
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
Maka lain halnya dengan tujuan penciptaan untuk menjadi khalifah. Tujuan penciptaan yang terakhir hanya dimandatkan kepada manusia.
Untuk melaksanakan fungsi khalifah ini, manusia diberi anugerah oleh Allah dengan dua buah hadiah yang sangat istimewa, yaitu ilmu pengetahuan (‘ilm) dan kebebasan memilih (ikhtiyar). (Kartanegara, 2002: 138). Dan untuk menerima kedua hadiah itu, manusia telah dilengkapi di dalam dirinya sarana atau piranti, berupa akal dan fasilitas lain di luar dirinya, berupa wahyu Tuhan yang diturunkan kepada manusia yang telah mencapai tingkat kesempurnaan (al-insan al-kamil) yang dalam bentuk konkretnya diwakili oleh nabi Muhammad. Dengan kata lain, dibekali sarana internal yaitu akal, dan anugerah fasilitas wahyu, manusia itu potensial memiliki pengetahuan dan kebebasan memilih dalam kerangka menjalankan peran khalifah-membangun kebudayaan/peradaban- sebagai tujuan penciptaannya.
Hakekat manusia menurut tujuan penciptaan adalah ‘abd dan khalifah.
3. Perspektif Sisi psikis/ruhaniah
Sisi psikis manusia dapat dijelaskan dengan 5 kata kunci: fithrah, nafs, qalb, ruh, dan ‘aql.
• Fithrah
Berdasarkan deduksi dari QS ar-Rum/ 30: 30 dan Ali ‘Imran/3: 14, fithrah adalah unsur, sistem, dan tata kerja yang diciptakan Allah pada makhluk sejak awal kejadiannya sehingga menjadi bawaannya.
Manusia memiliki , nafs, qalb, ruh, dan ‘aql adalah fithrah psikis/ruhaniahnya sebagai makhluk ciptaan Allah, sementara berjalan dengan kaki adalah fithrah fisik/jasadiahnya.
• Nafs
Nafs adalah totalitas manusia (QS Al-Maidah/5: 32) dengan fokus pada sisi dalam manusia (QS Ar-Ra’d/13:11) yang berpotensi baik/positif atau buruk/negatif (QS asy-Syams/91: 7-8). Bila potensi itu diaktualisasikan, manusia dapat menangkap makna baik dan buruk, serta dapat mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Potensi positif manusia lebih kuat daripada potensi negatifnya (QS ar-Rum/30: 30); QS Al-Baqarah/2: 286). Namun, daya tarik keburukan lebih kuat dari pada daya tarik kebaikan (QS al-Infithar/82: 6), sehingga manusia dituntut agar memelihara kesucian nafs (QS asy Syams/91: 9-10).
Sebagai wadah berisi pengetahuan / ide, kemauan keras, nurani, juga sebagai sarana (‘aql / ruh, qalb, dan fikr)
• Qalb
Qalb adalah sesuatu yang berpotensi untuk tidak konsisten, bolak-balik: sekali senang sekali susah, sekali setuju dan sekai menolak. Sebagai wadah, qalb berisi takut, keimanan, pengajaran dan kasih sayang. Sebagai wadah, tentu saja qalb dapat diisi atau diambil isinya (QS al-Hijr/15:47; al-Hujurat/49: 14), bahkan ditutup/disegel (QS al-Baqarah/2: 7). Qalb juga dapat diperbesar atau dipersempit (QS al-Hujurat/49: 3;al-An’am/6: 125- melalui kata padanannya shadr.
• Ruh
Mengenai kata ruh tidak semuanya terkait dengan manusia. Kata ruh yang berkaitan dengan manusia pun beragam makna dan konteksnya.
1. Ada yang dianugerahkan Allah hanya kepada manusia pilihan-Nya (QS Ghafir/40: 15): wahyu yang dibawa oleh Malaikat Jibril.
2. Ada yang dianugerahkan Allah kepada orang-orang mukmin (QS Al-Mujadalah/58: 22): dukungan dan peneguhan hati atau kekuatan batin.
3. Ada yang dianugerahkan-Nya kepada seluruh manusia (QS Al-Mukminun/23: 14): yang dipahami sebagai sesuatu yang menjadikan manusia khalq akhar, makhluk yang unik, yaitu akal.

• ‘Aql
Walaupun hanya diungkapkan dalam bentuk kata kerja masa kini dan lampau, kata ‘aql-dengan memperhatikan konteks ayat- dapat dipahami antara lain sebagai berikut:
1. Daya nalar, yaitu daya memahami dan menggambarkan sesuatu, juga daya menganalisis dan menyimpulkan. QS al-Ankabut/29: 43
   ••      
“Dan perumpamaan-perumpamaan Ini kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”.
2. Dorongan moral (QS al-An’am/6: 151)
                             •         •            
Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu Karena takut kemiskinan, kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar[518]”. demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya)”.
Dalam ayat ini berupa dorongan moral untuk meninggalkan perbuatan keji, termasuk membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah.
3. daya rusyd, yaitu daya mengambil pelajaran dan hikmah, daya yang menggabungkan dua daya terdahulu, hal ini sebagaimana yang dapat dipahami dari QS Ali ‘Imran/3:190-191
       •                         • 
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka”.
Orang berakal dalam ayat ini disebut dengan ulil albab yang pemahamannya tentang penciptaan alam (melalui daya fikrnya) dan dorongan moralnya (melalui daya dzikrnya)telah mengantarkannya mengambil pelajaran/ hikmah bahwa apa yang diciptakan Allah tidallah ada yang sia-sia.
Hakekat manusia perspektif unsur psikis/ ruhaniah adalah akal.

4. Perspektif eksistensi
Sesuatu yang amat vital yang menentukan kehidupannya, baik di tengah masyarakat maupun di mata Allah:
 Amalnya, yang mencakup gagasan, perbuatan dan karya (QS Al-Mulk/67: 2; QS At-Taubah/ 9: 105)
 Untuk melaksanakan mandatnya, baik sebagai hamba Allah (QS Al-Dzariyat/51: 56) maupun sebagai khalifah-Nya (QS Al-Baqarah/2 : 30; QS Hud/11: 61).
Hakekat manusia perspektif eksistensi adalah amal.

b) Tolok ukur dari hakekat masyarakat
 perspektif eksistensi
Masyarakat adalah kumpulan individu yang saling berinteraksi sehingga memiliki kesadaran dan spirit kolektif, serta cita-cita atau kebutuhan kolektif.
Hakekat masyarakat perspektif eksistensi adalah amalnya, yang mewujud dalam bentuk “peradaban”.

c) Tolok ukur dari hakekat alam
 Perspektif penciptaan
Alam adalah segala yang ada, baik yang nyata maupun yang ghaib. Manusia adalah bagian dari alam, namun memiliki tugas memakmurkannya (QS Hud/11: 16). Tujuan akhir penciptaan alam adalah manusia sehingga seluruh isi alam tercipta untuk melayani kepentingan manusia (QS al-Baqarah/2: 29 dan hadits qudsi:
لولك و لن لك ما خلقت العالم كلها
Hakekat alam perspektif penciptaan adalah manifestasi sifat-sifat Tuhan.

d) Tolok ukur dari hakekat pengetahuan
 Perspektif ontologis
Objek yang dapat diketahui manusia adalah:
1. Objek-objek fisik, yang dapat diamati secara inderawi (mahsusat [sensibles]).
2. Objek-objek non-fisik, non-material atau metafisik (ma’qulat [intelligibles]), seperti aksioma-aksioma matematika, konsep-konsep mental dan realitas-realitas imajinal dan spiritual.
 Perspektif epitemologis
Cara manusia supaya dapat mengetahui objek-objek tersebut adalah karena:
 Objek fisik:
Metode yang digunakan untuk mengetahui objek ini ada dua yaitu:
1. Observasi (bayani), yaitu dengan daya/ sarana indera (hiss) maka cara kerjanya adalah mengamati objek
2. Demonstrasi (burhani), yaitu dengan daya / sarana akal (‘aql) maka cara kerjanya adalah mengabstraksikan makna universal dari data-data inderawi.
 Objek non-fisik/ metafisika:
Metode yang digunakan untuk mengetahui objek ini ada tiga, yaitu:
1. Demonstrasi (burhani), yaitu dengan daya / sarana akal (‘aql) maka cara kerjanya adalah menyimpulkan dari yang tidak diketahui menuju yang tidak diketahui
2. Intuitif (‘irfani), yaitu dengan daya / sarana imajinasi (mutakhayyilah), maka cara kerjanya adalah kontak langsung dengan objek imajinal yang hadir dalam jiwa.
3. Intuitif (‘irfani), yaitu dengan daya / sarana hati (qalb), maka cara kerjanya adalah kontak langsung dengan objek non-fisik yang hadir dalam jiwa.

B. LAPORAN RUMUSAN MAKNA PENDIDIKAN DAN/ATAU TUJUAN UMUM PENDIDIKAN (PLUS TUJUAN KHUSUS ATAU KEGIATAN PENDIDIKAN) DARI SUATU LEMBAGA PENDIDIKAN BERBASIS ISLAM

Lembaga pendidikan yang akan dievaluasi di sini adalah Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Boarding School (MBS) di Yogyakarta. Adapun tujuan umum pendidikan dari lembaga ini adalah dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Visi
“Terbentuknya lembaga pendidikan berkualitas dalam membentuk kader Muhammmadiyah yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah”.
2. Misi
Adapun misinya yaitu:
a. Menjadi gerbang iman dan intelektual yang berwawasan pengembangan potensi peserta didik guna terciptanya khoiru ummah.
b. Menjadi pelopor, penggerak, dan penyempurna sistem nilai Islam bagi peserta didik khususnya dan ummat pada ummat pada umumnya.
c. Menjadi lembaga pendidikan yang memelihara nilai Islam di atas al-Quran dan as-Sunnah.
d. Menjadi lembaga pendidikan Islam yang secara profesional berkhidmat kepada ummat melalui pengembangan model dan manajemen pendidikan yang berkesinambungan dengan terfokus pada pembinaan aqidah, akhlaq dan ibadah sesuai sunnah Rasulullah.
e. Menyiapkan kader bangsa yang faqqih (faham agama dengan baik) dan berwawasan luas serta mewujudkan generasi bangsa yang bersih dan bermartabat.
f. Mencetak pemimpin yang jujur, amanah, cerdas dan berwawasan luas serta bertanggung jawab.
3. Motto
Adapun motto dari lembaga pendidikan ini adalah “membina iman, ilmu dan akhlaq”.

C. EVALUASI TERHADAP RUMUSAN MAKNA PENDIDIKAN DAN ATAU TUJUAN UMUM PENDIDIKAN DI ATAS

Dengan melihat rumusan makna pendidikan dan atau tujuan umum pendidikan dari lembaga pendidikan di atas dapat kami pahami bahwa:
Di lihat dari perspektif hakekat manusia lembaga pendidikan di atas hanya membentuk manusia yang cerdas secara intelektual dan spiritual, namun tidak memperhatikan aspek emosionalnya. Padahal pendidikan emosional itu juga sangat penting untuk membuat peserta didik menjadi pelajar yang tidak hanya mengandalkan kecerdasan intelektual dan spiritual saja namun juga di landasi dengan emosionalnya.
Jadi menurut saya yang perlu di kritisi dari lembaga pendidikan adalah tujuan pendidikan hanya mementingkan intelektual dan spiritual saja, sedangkan emosionalnya di abaikan.

D. RUMUSAN HAKEKAT PENDIDIKAN DAN TUJUAN UMUM PENDIDIKAN MENURUT PENDIKIRAN SENDIRI
Sebagaimana yang sudah kita pahami bersama bahwa pendidikan itu adalah proses memanusiakan manusia. Dan dalam proses itu sendiri tentunya adalah proses menuju perubahan.
• Jadi hakekat pendidikan menurut saya adalah perubahan.
• Adapun tujuan pendidikan menurut saya adalah perubahan dari yang sebelumnya anak-anak menjadi dewasa, dari orang yang tidak berpengetahuan menjadi orang yang berpengetahuan, dari orang yang tidak mengetahui adab, sopan santun, akhlaq menjadi orang yang mengetahui dan mengaktualisasikannya menjadi orang yang berkepribadian/berakhlaq.
Dengan perubahan inilah manusia nantinya akan siap menjalankan misinya di dunia ini yaitu selain menjadi ‘abd juga sekaligus diserahi tugas memelihara, memanfaatkan segala apa yang ada di muka bumi ini atau sebagai khalifah.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: